Jumat, 10 Oktober 2014

Tugas Pertemuan ke-3

Prinsip Prinsip Seorang Manager


Manajer dalam kedudukannya sebagai pengarah dan pengatur bawahan, dituntut untuk memiliki kharisma dan kekuasaan untuk dapat mengatur orang-orang yang dibawahinya. Namun, seorang manajer yang baik juga harus memiliki kemampuan mengelola diri pribadi sendiri sedemikian rupa sehingga tujuan bersama menjadi prioritas utama, di atas tujuan pribadi atau kelompoknya. Berikut adalah prinsip-prinsip yang harus dimiliki oleh seorang manajer:

1. Berprinsip Teguh dalam Tujuan, Luwes dalam Cara.
Dalam ungkapan bahasa Latin, prinsip ini dikatakan, “Fortitier in Re, Suaviter in Modo.” Seorang manajer harus memiliki jiwa yang tegar, tegas namun luwes atau fleksibel.
2. Berprinsip Untuk Selalu Berdoa dan Bekerja Keras.
Dalam ugkapan bahasa Latin disebut “Ora et Labora.” Seorang manajer memang wajib berusaha, akan tetapi ia perlu mengisi ruang spiritualnya untuk mengimbangi aksi fisik yang dilakukannya.
3. Berprinsip Untuk Menjunjung Tinggi Nilai Kejujuran.
Kejujuran lebih berharga dibandingkan kekayaan finansial. Kejujuran membuat seorang manajer lebih berharga di mata bawahan dan sesama manajer. Kejujuran menghindarkan diri dari perbuatan yang merugikan pihak lain. Jika yang bertindak tidak jujur itu seorang manajer, maka yang menjadi korban adalah bawahan dan organisasi yang ia kelola.
4. Berprinsip Mau Berkorban Untuk meraih keberhasilan.
Dalam istilah bahasa Jawa kita mengenal “Jer basuki mawa beya”. Seorang manajer butuh pengorbanan waktu, pikiran, tenaga, dan modal. Akan tetapi, ia tidak boleh mengorbankan integritas, harga diri dan keluarga.
5. Berprinsip Melakukan Apa yang seharusnya dilakukan.
Tindakan itu adalah mutlak dan merupakan realisasi dari rencana, konsep, rancangan, ide, dan prosedur. Sehebat apapun itu, jika tidak dilakukan tidak akan bermanfaat.
6. Berprinsip Untuk Efisiensi dalam Penggunaan Biaya.
Efisiensi biaya dapat kita istilahkan sebagai “less is more” atau “less cost is more profit”. Efisiensi biaya bukan berarti mengorbankan produktivitas dan kualitas pekerjaan. Di sini kemampuan analisis dan desain proses atau sistem sangat berperan.
7. Berprinsip Untuk Tidak Menunda Pekerjaan.
“Do it now!” Demikian himbauan kepada seorang manajer. Melakukan pekerjaan dengan tekat bulat dengan berpikir seolah-olah tidak akan ada hari esok.
8. Berprinsip Untuk Menghadirkan Ide dan Gagasan Terbaik.
Namun ketidakhadiran gagasan terbaik bukanlah penghalang bagi manajer untuk membuat keputusan. Pertimbangkan waktu, tenaga, dan biaya.
9. Berprinsip untuk Bersikap tegas dan Bertanggungjawab .
Tegas di sini merasa mantap terhadap apa yang dirasakan. Seorang manajer tidak boleh menunjukkan keraguan dalam mengambil keputusan atau bertindak. Jika ia berani, maka jangan takut; namun jika takut, jangan berani-berani.
10. Berprinsip untuk “Small is beautiful, big is powerful.”
Jika anda bekerja di perusahaan kecil, janganlah berkecil hati. Anda justru dapat mengoptimalkan pemanfaatan kemampuan yang Anda miliki. Ketika hasil kerja beranjak terlihat dan Anda menjadi “Besar” maka sadarilah itu dan jangan ragu untuk melangkah.
11. Berprinsip untuk Selalu Sadar dengan Realitas yang terjadi.
Istilah lainnya “que sera sera”, yang artinya “apa yang akan terjadi, terjadilah.” Seorang manajer harus berhati-hati terhadap sikap pasrah. Sikap ini mengandung dua art: baik dan tidak baik. Pada prinsipnya, manajer harus berbuat yang terbaik sebelum menyatakan “que sera sera.”

Di luar prinsip-prinsip di atas, manajer juga perlu memiliki sifat “rendah hati dan tetap ingat”; tidak boleh memiliki sifat “mumpung” karena hal ini akan menjadi bumerang. Wejangan Ki Hajar Dewantara, “ing ngarsa sung tuladha; ing madya mangun karsa; tut wuri handayani” tidak kalah pentingnya mendukung eksistensi seorang manajer dalam kedudukannya sebagai mesin penggerak manajerial organisasi.


Kualitas Seorang Manajer

“Manajer Yang Berkualitas Tidak Hanya Akan Peduli Pada Kompetensi Dan Kontribusi Karyawan, Tapi Juga Sangat Peduli Untuk Meningkatkan Semangat Dan Gairah Kerja Karyawan.”

Kualitas seorang manajer akan terlihat dari kemampuan dirinya untuk menyiapkan kualitas dan kompetensi diri, agar dapat terhubung dengan semua staf. Termasuk, menyiapkan kemampuan untuk terhubung secara fungsional dengan semua departemen lain; menyiapkan diri untuk dapat melayani perusahaan dan semua perilaku manusianya; menyiapkan diri untuk membuat dirinya berkontribusi secara berkelanjutan, tanpa terputus oleh tantangan apapun, untuk keberhasilan dari tujuan yang dia pimpin.

Manajer yang cerdas pasti berkemampuan untuk mempengaruhi staf yang dia pimpin, dan berkemampuan untuk mengarahkan staf menuju tujuan yang harus dicapai dengan berkualitas. Ketegasan sikap dan kecerdasan dalam memberikan instruksi yang jelas kepada para staf, akan menjadi kunci sukses dari kepemimpinannya.

Manajer harus menjadi tempat bertanya dan tempat menimba ilmu buat para karyawan. Untuk itu, manajer harus selalu menyiapkan diri, setiap hari menyiapkan diri dengan latihan dan belajar secara berkelanjutan untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, wawasan, kesadaran terhadap tugas dan tanggung jawab sebagai manajer.

Persiapan dan kemampuan manajer untuk menjalankan fungsi dan perannya sebagai manajer sangat menentukan sukses tidaknya sebuah tujuan. Bila manajer tidak siap sebagai seorang manajer, maka para staf pasti akan berpikir bahwa manajer mereka tidak mengerti apa-apa, dan tidak bisa melakukan apa-apa. Dan, sekali karyawan berpikir manajernya tidak berfungsi, maka fungsi dan peran manajer akan kehilangan kepercayaan dari para karyawan. Dampaknya, perjalanan menuju tujuan dan sasaran bisa terhambat.

Menjadi manajer berarti telah memiliki wawasan, pengetahuan, kompetensi, dan visi yang kuat untuk melakukan apa pun, agar dapat menemukan tujuan yang diinginkan dengan sempurna dan tepat waktu.

Manajer harus mengarahkan semua staf untuk selalu fokus pada target, membimbing dan mengarahkan semua karyawan dalam perhitungan bisnis yang benar.
Manajer harus dapat memperlakukan semua staf secara adil dan terbuka. Dan, memonitor kemajuan dari rencana dan tindakan yang dilakukan, bila ada penyimpangan, maka segera harus berkoordinasi untuk melakukan tindakan perbaikan.

Manajer harus menyiapkan kualitas keberanian yang terkalkulasi risikonya untuk bertindak menuju tujuan. Semua sikap dan perilaku yang penuh keraguan harus dihentikan, dan digantikan dengan sikap dan perilaku yang penuh keyakinan dalam kepercayaan diri yang tinggi, agar dapat mewujudkan semua tujuan sesuai waktu yang telah ditetapkan.

Manajer adalah pemimpin dan sekaligus koordinator yang harus memanfaatkan semua bakat dan potensi dari orang-orang yang dipimpin, untuk kemudian diubah menjadi bakat dan potensi organisasi.

Kualitas seorang manajer ada pada mindset dan perilaku untuk mau bertindak sesuai rencana; untuk mau bertindak sesuai komitmen; untuk mau bertindak sesuai misi dan visi; untuk mau bertindak bersama empati yang menyatukan semua orang dalam aliran energi kolaborasi yang bersinergi.

Takut vs Cemas


Setiap orang pasti pernah mengalami cemas dan takut. Tapi banyak yang tidak menyadari perbedaan antara cemas dan takut. Nah, kali ini aku akan coba bahas sedikit perbedaan antara cemas dan takut.

1. Rasa takut merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya, sedangkan rasa cemas merupakan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya.
contohnya :
Rina takut dengan ular, karena ia menilai bahwa ular memiliki bisa yang berbahaya.
Aldo cemas dipanggil ke ruangan guru tanpa diberi alasan yang jelas, karena ia tidak tahu alasan dia dipanggil kesana dan tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan guru.

2. Rasa takut memiliki objek yang spesifik, sedangkan rasa cemas tidak memiliki objek yang spesifik.
contohnya :
Epi takut dengan kecoa, Epi tahu dengan jelas, bahwa wujud kecoa yang hitam kecil yang membuatnya takut.
Tian cemas bertemu dengan dosen Fisiologi, tetapi Tian tidak tahu alasan spesifik kenapa ia takut bertemu dengan dosen tersebut, apakah karena penampilan dosen itu, atau karena gaya bicaranya yang rada keras, atau karena isu-isu yang mengatakan kalau dosen tersebut tergolong "sadis".

3. Rasa takut bersumber dari suatu hal yang telah kita alami sebelumnya (pengalaman traumatis terhadap sesuatu), sedangkan rasa cemas muncul terhadap sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya.
contohnya :
Septy takut dengan serangga, karena telinganya pernah disengat serangga hingga bengkak.
Tia cemas menaiki sampan untuk menyeberangi sungai, karena ia belum pernah menaiki sampan sebelumnya.

4. Sumber takut dapat dihilangkan dengan menolak, menjauhi, atau menghindari hal yang menyebabkan takut, sedangkan rasa cemas tidak dapat dihindari, artinya, kita tidak bisa menghindar dari hal yang membuat kita cemas.
contohnya :
Rina takut dengan ular, tapi Rina bisa menghindari rasa takut dengan cara menghindari bertemu dengan Ular.
Dewi cemas menghadapi ujian tengah semester, dan Dewi tidak bisa menghindari dari Ujian Tengah Semester.