Manajer dalam
kedudukannya sebagai pengarah dan pengatur bawahan, dituntut untuk memiliki kharisma
dan kekuasaan untuk dapat mengatur orang-orang yang dibawahinya. Namun, seorang
manajer yang baik juga harus memiliki kemampuan mengelola diri pribadi sendiri
sedemikian rupa sehingga tujuan bersama menjadi prioritas utama, di atas tujuan
pribadi atau kelompoknya. Berikut adalah prinsip-prinsip yang harus dimiliki
oleh seorang manajer:
1. Berprinsip Teguh dalam Tujuan, Luwes dalam Cara.
Dalam ungkapan bahasa Latin, prinsip ini dikatakan,
“Fortitier in Re, Suaviter in Modo.” Seorang manajer harus memiliki jiwa yang
tegar, tegas namun luwes atau fleksibel.
2. Berprinsip Untuk Selalu Berdoa dan Bekerja Keras.
Dalam ugkapan bahasa Latin disebut “Ora et Labora.” Seorang
manajer memang wajib berusaha, akan tetapi ia perlu mengisi ruang spiritualnya
untuk mengimbangi aksi fisik yang dilakukannya.
3. Berprinsip Untuk Menjunjung Tinggi Nilai Kejujuran.
Kejujuran lebih berharga dibandingkan kekayaan finansial.
Kejujuran membuat seorang manajer lebih berharga di mata bawahan dan sesama
manajer. Kejujuran menghindarkan diri dari perbuatan yang merugikan pihak lain.
Jika yang bertindak tidak jujur itu seorang manajer, maka yang menjadi korban
adalah bawahan dan organisasi yang ia kelola.
4. Berprinsip Mau Berkorban Untuk meraih keberhasilan.
Dalam istilah bahasa Jawa kita mengenal “Jer basuki mawa
beya”. Seorang manajer butuh pengorbanan waktu, pikiran, tenaga, dan modal.
Akan tetapi, ia tidak boleh mengorbankan integritas, harga diri dan keluarga.
5. Berprinsip Melakukan Apa yang seharusnya dilakukan.
Tindakan itu adalah mutlak dan merupakan realisasi dari
rencana, konsep, rancangan, ide, dan prosedur. Sehebat apapun itu, jika tidak
dilakukan tidak akan bermanfaat.
6. Berprinsip Untuk Efisiensi dalam Penggunaan Biaya.
Efisiensi biaya dapat kita istilahkan sebagai “less is more”
atau “less cost is more profit”. Efisiensi biaya bukan berarti mengorbankan
produktivitas dan kualitas pekerjaan. Di sini kemampuan analisis dan desain
proses atau sistem sangat berperan.
7. Berprinsip Untuk Tidak Menunda Pekerjaan.
“Do it now!” Demikian himbauan kepada seorang manajer.
Melakukan pekerjaan dengan tekat bulat dengan berpikir seolah-olah tidak akan
ada hari esok.
8. Berprinsip Untuk Menghadirkan Ide dan Gagasan
Terbaik.
Namun ketidakhadiran gagasan terbaik bukanlah penghalang
bagi manajer untuk membuat keputusan. Pertimbangkan waktu, tenaga, dan biaya.
9. Berprinsip untuk Bersikap tegas dan Bertanggungjawab
.
Tegas di sini merasa mantap terhadap apa yang dirasakan.
Seorang manajer tidak boleh menunjukkan keraguan dalam mengambil keputusan atau
bertindak. Jika ia berani, maka jangan takut; namun jika takut, jangan
berani-berani.
10. Berprinsip untuk “Small is beautiful, big is
powerful.”
Jika anda bekerja di perusahaan kecil, janganlah berkecil
hati. Anda justru dapat mengoptimalkan pemanfaatan kemampuan yang Anda miliki.
Ketika hasil kerja beranjak terlihat dan Anda menjadi “Besar” maka sadarilah
itu dan jangan ragu untuk melangkah.
11. Berprinsip untuk Selalu Sadar dengan Realitas yang
terjadi.
Istilah lainnya “que sera sera”, yang artinya “apa yang akan
terjadi, terjadilah.” Seorang manajer harus berhati-hati terhadap sikap pasrah.
Sikap ini mengandung dua art: baik dan tidak baik. Pada prinsipnya, manajer
harus berbuat yang terbaik sebelum menyatakan “que sera sera.”
Di luar prinsip-prinsip di atas, manajer juga perlu memiliki sifat
“rendah hati dan tetap ingat”; tidak boleh memiliki sifat “mumpung” karena hal
ini akan menjadi bumerang. Wejangan Ki Hajar Dewantara, “ing ngarsa sung
tuladha; ing madya mangun karsa; tut wuri handayani” tidak kalah pentingnya
mendukung eksistensi seorang manajer dalam kedudukannya sebagai mesin penggerak
manajerial organisasi.
Kualitas Seorang Manajer
“Manajer Yang Berkualitas Tidak Hanya Akan Peduli Pada Kompetensi
Dan Kontribusi Karyawan, Tapi Juga Sangat Peduli Untuk Meningkatkan Semangat
Dan Gairah Kerja Karyawan.”
Kualitas seorang
manajer akan terlihat dari kemampuan dirinya untuk menyiapkan kualitas dan
kompetensi diri, agar dapat terhubung dengan semua staf. Termasuk, menyiapkan
kemampuan untuk terhubung secara fungsional dengan semua departemen lain;
menyiapkan diri untuk dapat melayani perusahaan dan semua perilaku manusianya;
menyiapkan diri untuk membuat dirinya berkontribusi secara berkelanjutan, tanpa
terputus oleh tantangan apapun, untuk keberhasilan dari tujuan yang dia pimpin.
Manajer yang cerdas
pasti berkemampuan untuk mempengaruhi staf yang dia pimpin, dan berkemampuan
untuk mengarahkan staf menuju tujuan yang harus dicapai dengan berkualitas.
Ketegasan sikap dan kecerdasan dalam memberikan instruksi yang jelas kepada
para staf, akan menjadi kunci sukses dari kepemimpinannya.
Manajer harus menjadi
tempat bertanya dan tempat menimba ilmu buat para karyawan. Untuk itu, manajer
harus selalu menyiapkan diri, setiap hari menyiapkan diri dengan latihan dan
belajar secara berkelanjutan untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan,
wawasan, kesadaran terhadap tugas dan tanggung jawab sebagai manajer.
Persiapan dan
kemampuan manajer untuk menjalankan fungsi dan perannya sebagai manajer sangat
menentukan sukses tidaknya sebuah tujuan. Bila manajer tidak siap sebagai
seorang manajer, maka para staf pasti akan berpikir bahwa manajer mereka tidak
mengerti apa-apa, dan tidak bisa melakukan apa-apa. Dan, sekali karyawan
berpikir manajernya tidak berfungsi, maka fungsi dan peran manajer akan
kehilangan kepercayaan dari para karyawan. Dampaknya, perjalanan menuju tujuan
dan sasaran bisa terhambat.
Menjadi manajer
berarti telah memiliki wawasan, pengetahuan, kompetensi, dan visi yang kuat
untuk melakukan apa pun, agar dapat menemukan tujuan yang diinginkan dengan
sempurna dan tepat waktu.
Manajer harus
mengarahkan semua staf untuk selalu fokus pada target, membimbing dan
mengarahkan semua karyawan dalam perhitungan bisnis yang benar.
Manajer harus dapat
memperlakukan semua staf secara adil dan terbuka. Dan, memonitor kemajuan dari
rencana dan tindakan yang dilakukan, bila ada penyimpangan, maka segera harus
berkoordinasi untuk melakukan tindakan perbaikan.
Manajer harus
menyiapkan kualitas keberanian yang terkalkulasi risikonya untuk bertindak
menuju tujuan. Semua sikap dan perilaku yang penuh keraguan harus dihentikan,
dan digantikan dengan sikap dan perilaku yang penuh keyakinan dalam kepercayaan
diri yang tinggi, agar dapat mewujudkan semua tujuan sesuai waktu yang telah
ditetapkan.
Manajer adalah
pemimpin dan sekaligus koordinator yang harus memanfaatkan semua bakat dan
potensi dari orang-orang yang dipimpin, untuk kemudian diubah menjadi bakat dan
potensi organisasi.
Kualitas seorang
manajer ada pada mindset dan perilaku untuk mau bertindak sesuai rencana; untuk
mau bertindak sesuai komitmen; untuk mau bertindak sesuai misi dan visi; untuk
mau bertindak bersama empati yang menyatukan semua orang dalam aliran energi
kolaborasi yang bersinergi.
Takut vs Cemas
Setiap orang pasti pernah mengalami cemas dan takut. Tapi banyak yang tidak menyadari perbedaan antara cemas dan takut. Nah, kali ini aku akan coba bahas sedikit perbedaan antara cemas dan takut.
1. Rasa takut merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya, sedangkan rasa cemas merupakan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya.
contohnya :
Rina takut dengan ular, karena ia menilai bahwa ular memiliki bisa yang berbahaya.
Aldo cemas dipanggil ke ruangan guru tanpa diberi alasan yang jelas, karena ia tidak tahu alasan dia dipanggil kesana dan tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan guru.
2. Rasa takut memiliki objek yang spesifik, sedangkan rasa cemas tidak memiliki objek yang spesifik.
contohnya :
Epi takut dengan kecoa, Epi tahu dengan jelas, bahwa wujud kecoa yang hitam kecil yang membuatnya takut.
Tian cemas bertemu dengan dosen Fisiologi, tetapi Tian tidak tahu alasan spesifik kenapa ia takut bertemu dengan dosen tersebut, apakah karena penampilan dosen itu, atau karena gaya bicaranya yang rada keras, atau karena isu-isu yang mengatakan kalau dosen tersebut tergolong "sadis".
3. Rasa takut bersumber dari suatu hal yang telah kita alami sebelumnya (pengalaman traumatis terhadap sesuatu), sedangkan rasa cemas muncul terhadap sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya.
contohnya :
Septy takut dengan serangga, karena telinganya pernah disengat serangga hingga bengkak.
Tia cemas menaiki sampan untuk menyeberangi sungai, karena ia belum pernah menaiki sampan sebelumnya.
4. Sumber takut dapat dihilangkan dengan menolak, menjauhi, atau menghindari hal yang menyebabkan takut, sedangkan rasa cemas tidak dapat dihindari, artinya, kita tidak bisa menghindar dari hal yang membuat kita cemas.
contohnya :
Rina takut dengan ular, tapi Rina bisa menghindari rasa takut dengan cara menghindari bertemu dengan Ular.
Dewi cemas menghadapi ujian tengah semester, dan Dewi tidak bisa menghindari dari Ujian Tengah Semester.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar