“Pondasi dari
kepemimpinan yang efektif ialah berpikir berdasarkan misi organisasi,
mendefinisikan, dan menegakkannya secara tegas.” -
Peter Drucker (1909-2005).
"Tidak
semua Pemimpin memiliki jiwa kepemimpinan"
Apa yang pertama
melintas di benak Anda tatkala mendengar kata “pemimpin”? Bisa jadi sosok
mungil Andik Virmansyah, pemain pengemban ban kapten Timnas sepakbola U-21,
guru mata pelajaran di kelas, atau Presiden
pertama Republik Indonesia, Soekarno. Ia tidak hanya menjadi inspirasi seluruh
bangsa Indonesia, bahkan pemimpin – pemimpin dari negeri seberang juga merasa bahwa Soekarno
adalah seseorang yang patut menjadi inspirasi.
Foto : Soekarno, salah satu pemimpin
yang berpengaruh di Indonesia.
Memang mereka
semua contoh para pemimpin. Benang merahnya satu, sang pemimpin bertugas
mengarahkan anggota tim agar mencapai keberhasilan bersama. Tujuan tersebut
bisa jadi memenangkan pertandingan di lapangan hijau, tuntas menjawab soal-soal
Ujian Akhir Nasional (UAN) secara akurat, ataupun mensejahteraan rakyat dari
Sabang sampai Merauke. Artinya, tanpa kehadiran para pemimpin,
niscaya kapal bangsa ini oleng tak beraturan.
Dalam
konteks ini, peran pemimpin sangat signifikan. Ia ibarat seorang nahkoda. setiap orang digariskan menjadi pemimpin atas dirinya
sendiri(self leader).
Artinya, kita musti giat dan disiplin melatih kualitas pribadi. Sehingga dapat
menjadi pemimpin jempolan. Mengutip pendapat Swami Rama (1925-1996), “Kamu tak
akan bertemu pemimpin yang buruk kalau kamu seorang pengikut yang baik. Tapi
sebaliknya juga benar, kalau kamu seorang pengikut yang buruk, kamu tak akan
bertemu pemimpin yang baik.” (Guru
Yoga, Anand Krishna: 2012).
Kunci Sukses bernama KerjaSama
Belajar Strategi
Kerjasama Semut
Pernahkah Anda
memperhatikan semut? Kadang kita dibuat jengkel dengan semut yang selalu datang
jika kita menempatkan makanan. Seperti kata pepatah ada gula ada semut. Dibalik
semua itu ada pelajaran berharga dari semut tersebut. Coba pelajari dari
bagaimana mereka hidup, mulai dari mencari makanan, mempersiapkan bekal untuk
musim dingin yang panjang, hidup rukun dalam komunitas, bekerja keras dan
bersahabat.
Pernahkah Anda
melihat ketika semut-semut membawa makanan? Terlihat ada semut yang membawa
beban lebih besar dari tubuhnya. Menurut penelitian, semut bisa membawa beban
10 kali berat tubuhnya. Jika ada beban besar yang tidak bisa dibawa sendiri,
semut mempunyai strategi, yaitu mengumpulkan temannya dan menggotongnya
beramai-ramai agar benda tersebut bisa dibawa kesarangnya. Strategi yang jitu
dan kompak untuk mencapai tujuan tersebut bernama kerjasama (teamwork).
Kita bisa belajar
dari strategi kehidupan semut. Jika Anda pernah memperhatikan ada beberapa ekor
semut menemukan target makanan Anda,
maka ketika sekelompok semut memutuskan untuk membawa temuan mereka (target). Bila
makanan tersebut tidak cukup dibawa satu atau dua ekor semut ke sarangnya,
beberapa semut akan melaporkan (identifikasi) ke yang lainnya dan kembali ke
temuan itu. Sebelum mereka mengangkatnya temuan makanan tersebut, mereka
terlebih dahulu mengitari berulang-ulang, maju dan mundur (measure) mengukur
dan menganalisa cukup lama. Bahkan kadang semut yang satu pergi dan kembali
dengan lebih banyak semut, tetap masih belum memutuskan mengangkat. Kemudian
semut-semut yang berbaris melalui jalur dekat temuan, biasanya membelokkan arah
sebentar, ada yang tetap tinggal dekat temuan berkerumun dan ada yang kembali
meneruskan jalan (team selection) setelah mereka telah benar-benar yakin,
temuan makanan tersebut dapat diangkat maka mereka memulai maneuver mengangat
temuan itu. Meskipun saat mengangkat kadang oleng ke kanan dan ke kiri.
Dalam jalur
perjalanan semut membawa target makanan tersebut, ada team yang mengangkut
target dan beberapa ekor semut biasanya beriringan satu per satu di depannya dan diikuti dengan beberapa semut
berkerumun kecil dibelakang (support system). Juga selalu ada seekor semut yang
kesana kemari selama proses pengangkutan terjadi, yang dengan gesit mengawasi
(project leader) berjalan di depan, disamping, dibelakang team pengangkut.
Kemudian, kelompok ini berhenti, dan semut yang satu itu, yang tergesit dari
yang lain akan tetap sibuk bicara dari semut yang satu ke yang lain, kesana
kemari mengatur maneuver selanjutnya. Beberapa kali, dalam perjalanan, kelompok
pengangkut dan pengiring akan berhenti, ada semut yang bergantian mengangkut
digantikan dari kelompok pengiringnya, dan demikian seterusnya. Dan semut-semut
lain yang berjalan di dekat mereka akan selalu berhenti dekat kelompok ini dan
meneruskan perjalanan mereka kembali.
Kumpulan semut
bisa menjalankan serangkaian strategi dijalankan dengan manis dan tepat oleh
mereka. Ada beberapa pelajaran yang bisa dipelajari dari teman kita yang bijak
bernama semut? Mengapa kita tidak lebih kompak dan bijak dari mereka? Disini letak
perbedaannya.
Milik
kita bersama
Semut tidak
punya pemahaman makanan ini punyaku, atau makanan ini untukmu. Dalam kategori
pencapaian dan keberhasilan project seharusnya hanya ada, perspektif berfikir ini milik kita, bukan kami, aku dan
engkau. Sementara manusia lebih menyukai cara memandang project sebagai jika
melakukan sesuatu harus mendatangkan keuntungan dulu bagiku, atau aku tidak
akan melakukannya untukmu dan kerja yang diberikan akhirnya berdasarkan
hitung-hitungan didepan berapa besar gaji, bonus dan fasilitas kantor yang
disediakan untukku?
Apakah kita
bekerja tidak boleh mendapatkan keuntungan? Tentu saja boleh, harus malah. Semut
juga pasti mencari keuntungan. Orang bekerja harus mendapatkan hasil yang
sepadan dan adil yang didapat melalui proses yang benar.
Perbaiki
mental Attitude
Kebanyakan orang
lebih sibuk berfikir tentang keuntungan sebelum kerja dimulai. Padahal, adalah
lebih baik mengerahkan seluruh kemampuan untuk hasil maksimal lebih dulu, baru
memperoleh keuntungan kemudian. Jangan dibalik. Tidak mungkin Anda dapat fokus dalam
bekerja jika setiap saat Anda sibuk berhitung untung-rugi bekerja diperusahaan
ini? berhenti berfikir ini bukan perusahaan saya, dan mulailah mengambil sikap
ownership dalam posisi apapun Anda diperusahaan dengan menyatakan, masa depan perusahaan
ini, saya yang bertanggung jawab menjaganya. Belajarlah menghargai keadaan
Anda, dan jadikan keberadaan Anda menjadi bagian penting diperusahaan, tanpa
melihat posisi Anda ditempat kerja.
Perbaiki
Strategi
Kerjasama tidak
dapat dipaksakan. Ini hanya dapat diajarkan melalui kebiasaan. Coba lihat kunci
yang kita temukan dari strategi semut. Saat Anda menemukan peluang, dan
memutuskan untuk mengambil peluang sebagai target, identifikasikan semua sumber
daya yang Anda dapat temukan, buatlah pengukuran yang tepat, uji ulang sampai
Anda yakin bahwa target bisa dicapai bagi team Anda, lalu temukan dan seleksi
team yang tepat yakni mereka yang kompeten dan dalam satu visi dengan Anda
untuk mencapai tujuan. Jangan berhenti disini, ciptakan system pendukung
(support system), ini adalah payung pengaman Anda. Siapkan lapisan kedua dalam
team inti dengan kompetensi yang sama, jangan tergoda untuk mengambil banyak orang yang tidak memiliki kemampuan
dan komponen kompetensi kerja yang sama satu dengan yang lain, ini akan hanya
menambah beban. Kerjasama berarti juga membangun orang-orang yang tepat untuk
pekerjaan tepat dan menempatkan mereka dalam tanggung jawab bersama. Perhatikan
pemimpin yang sibuk, mengarahkan dan
memastikan tujuan dapat dicapai oleh keseluruhan team. Pemimpin ini tidak
menunggu teamnya bekerja harmonis dengan sendirinya, dialah orang yang paling
bertanggung jawab memberikan motivasi, menumbuhkan semangat dan menununjukkan
strategi kerjasama yang mendukung pencapaian.
"Jadikan
kerjasama sebagai strategi Anda, belajarlah untuk bekerja bijak seperti semut".
Sumber :
http://katamotivasionline.blogspot.com/2014/09/belajar-strategi-kerjasama-semut.html
http://politik.kompasiana.com/2012/04/13/kepemimpinan-yang-efektif-454716.html
http://katamotivasionline.blogspot.com/2014/09/belajar-strategi-kerjasama-semut.html
http://politik.kompasiana.com/2012/04/13/kepemimpinan-yang-efektif-454716.html




