Senin, 24 November 2014

KEPEMIMPINAN MANAJERIAL

“Pondasi dari kepemimpinan yang efektif ialah berpikir berdasarkan misi organisasi, mendefinisikan, dan menegakkannya secara tegas.” - Peter Drucker (1909-2005).


                                       "Tidak semua Pemimpin memiliki jiwa kepemimpinan"

Apa yang pertama melintas di benak Anda tatkala mendengar kata “pemimpin”? Bisa jadi sosok mungil Andik Virmansyah, pemain pengemban ban kapten Timnas sepakbola U-21, guru mata pelajaran di kelas, atau Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Ia tidak hanya menjadi inspirasi seluruh bangsa Indonesia, bahkan pemimpin – pemimpin dari negeri seberang juga merasa bahwa Soekarno adalah seseorang yang patut menjadi inspirasi.


                              Foto : Soekarno, salah satu pemimpin yang berpengaruh di Indonesia.

Memang mereka semua contoh para pemimpin. Benang merahnya satu, sang pemimpin bertugas mengarahkan anggota tim agar mencapai keberhasilan bersama. Tujuan tersebut bisa jadi memenangkan pertandingan di lapangan hijau, tuntas menjawab soal-soal Ujian Akhir Nasional (UAN) secara akurat, ataupun mensejahteraan rakyat dari Sabang sampai Merauke. Artinya, tanpa kehadiran para pemimpin, niscaya kapal bangsa ini oleng tak beraturan. 


Dalam konteks ini, peran pemimpin sangat signifikan. Ia ibarat seorang nahkoda. setiap orang digariskan menjadi pemimpin atas dirinya sendiri(self leader). Artinya, kita musti giat dan disiplin melatih kualitas pribadi. Sehingga dapat menjadi pemimpin jempolan. Mengutip pendapat Swami Rama (1925-1996), “Kamu tak akan bertemu pemimpin yang buruk kalau kamu seorang pengikut yang baik. Tapi sebaliknya juga benar, kalau kamu seorang pengikut yang buruk, kamu tak akan bertemu pemimpin yang baik.” (Guru Yoga, Anand Krishna: 2012).

Kunci Sukses bernama KerjaSama

Belajar Strategi Kerjasama Semut
Pernahkah Anda memperhatikan semut? Kadang kita dibuat jengkel dengan semut yang selalu datang jika kita menempatkan makanan. Seperti kata pepatah ada gula ada semut. Dibalik semua itu ada pelajaran berharga dari semut tersebut. Coba pelajari dari bagaimana mereka hidup, mulai dari mencari makanan, mempersiapkan bekal untuk musim dingin yang panjang, hidup rukun dalam komunitas, bekerja keras dan bersahabat.

Pernahkah Anda melihat ketika semut-semut membawa makanan? Terlihat ada semut yang membawa beban lebih besar dari tubuhnya. Menurut penelitian, semut bisa membawa beban 10 kali berat tubuhnya. Jika ada beban besar yang tidak bisa dibawa sendiri, semut mempunyai strategi, yaitu mengumpulkan temannya dan menggotongnya beramai-ramai agar benda tersebut bisa dibawa kesarangnya. Strategi yang jitu dan kompak untuk mencapai tujuan tersebut bernama kerjasama (teamwork).

Kita bisa belajar dari strategi kehidupan semut. Jika Anda pernah memperhatikan ada beberapa ekor semut  menemukan target makanan Anda, maka ketika sekelompok semut memutuskan untuk membawa temuan mereka (target). Bila makanan tersebut tidak cukup dibawa satu atau dua ekor semut ke sarangnya, beberapa semut akan melaporkan (identifikasi) ke yang lainnya dan kembali ke temuan itu. Sebelum mereka mengangkatnya temuan makanan tersebut, mereka terlebih dahulu mengitari berulang-ulang, maju dan mundur (measure) mengukur dan menganalisa cukup lama. Bahkan kadang semut yang satu pergi dan kembali dengan lebih banyak semut, tetap masih belum memutuskan mengangkat. Kemudian semut-semut yang berbaris melalui jalur dekat temuan, biasanya membelokkan arah sebentar, ada yang tetap tinggal dekat temuan berkerumun dan ada yang kembali meneruskan jalan (team selection) setelah mereka telah benar-benar yakin, temuan makanan tersebut dapat diangkat maka mereka memulai maneuver mengangat temuan itu. Meskipun saat mengangkat kadang oleng ke kanan dan ke kiri.

Dalam jalur perjalanan semut membawa target makanan tersebut, ada team yang mengangkut target dan beberapa ekor semut biasanya beriringan satu per satu  di depannya dan diikuti dengan beberapa semut berkerumun kecil dibelakang (support system). Juga selalu ada seekor semut yang kesana kemari selama proses pengangkutan terjadi, yang dengan gesit mengawasi (project leader) berjalan di depan, disamping, dibelakang team pengangkut. Kemudian, kelompok ini berhenti, dan semut yang satu itu, yang tergesit dari yang lain akan tetap sibuk bicara dari semut yang satu ke yang lain, kesana kemari mengatur maneuver selanjutnya. Beberapa kali, dalam perjalanan, kelompok pengangkut dan pengiring akan berhenti, ada semut yang bergantian mengangkut digantikan dari kelompok pengiringnya, dan demikian seterusnya. Dan semut-semut lain yang berjalan di dekat mereka akan selalu berhenti dekat kelompok ini dan meneruskan perjalanan mereka kembali.

Kumpulan semut bisa menjalankan serangkaian strategi dijalankan dengan manis dan tepat oleh mereka. Ada beberapa pelajaran yang bisa dipelajari dari teman kita yang bijak bernama semut? Mengapa kita tidak lebih kompak dan bijak dari mereka? Disini letak perbedaannya.

Milik kita bersama
Semut tidak punya pemahaman makanan ini punyaku, atau makanan ini untukmu. Dalam kategori pencapaian dan keberhasilan project seharusnya hanya ada, perspektif  berfikir ini milik kita, bukan kami, aku dan engkau. Sementara manusia lebih menyukai cara memandang project sebagai jika melakukan sesuatu harus mendatangkan keuntungan dulu bagiku, atau aku tidak akan melakukannya untukmu dan kerja yang diberikan akhirnya berdasarkan hitung-hitungan didepan berapa besar gaji, bonus dan fasilitas kantor yang disediakan untukku?
Apakah kita bekerja tidak boleh mendapatkan keuntungan? Tentu saja boleh, harus malah. Semut juga pasti mencari keuntungan. Orang bekerja harus mendapatkan hasil yang sepadan dan adil yang didapat melalui proses yang benar.

Perbaiki mental Attitude
Kebanyakan orang lebih sibuk berfikir tentang keuntungan sebelum kerja dimulai. Padahal, adalah lebih baik mengerahkan seluruh kemampuan untuk hasil maksimal lebih dulu, baru memperoleh keuntungan kemudian. Jangan dibalik. Tidak mungkin Anda dapat fokus dalam bekerja jika setiap saat Anda sibuk berhitung untung-rugi bekerja diperusahaan ini? berhenti berfikir ini bukan perusahaan saya, dan mulailah mengambil sikap ownership dalam posisi apapun Anda diperusahaan dengan menyatakan, masa depan perusahaan ini, saya yang bertanggung jawab menjaganya. Belajarlah menghargai keadaan Anda, dan jadikan keberadaan Anda menjadi bagian penting diperusahaan, tanpa melihat posisi Anda ditempat kerja.

Perbaiki Strategi
Kerjasama tidak dapat dipaksakan. Ini hanya dapat diajarkan melalui kebiasaan. Coba lihat kunci yang kita temukan dari strategi semut. Saat Anda menemukan peluang, dan memutuskan untuk mengambil peluang sebagai target, identifikasikan semua sumber daya yang Anda dapat temukan, buatlah pengukuran yang tepat, uji ulang sampai Anda yakin bahwa target bisa dicapai bagi team Anda, lalu temukan dan seleksi team yang tepat yakni mereka yang kompeten dan dalam satu visi dengan Anda untuk mencapai tujuan. Jangan berhenti disini, ciptakan system pendukung (support system), ini adalah payung pengaman Anda. Siapkan lapisan kedua dalam team inti dengan kompetensi yang sama, jangan tergoda untuk mengambil  banyak orang yang tidak memiliki kemampuan dan komponen kompetensi kerja yang sama satu dengan yang lain, ini akan hanya menambah beban. Kerjasama berarti juga membangun orang-orang yang tepat untuk pekerjaan tepat dan menempatkan mereka dalam tanggung jawab bersama. Perhatikan  pemimpin yang sibuk, mengarahkan dan memastikan tujuan dapat dicapai oleh keseluruhan team. Pemimpin ini tidak menunggu teamnya bekerja harmonis dengan sendirinya, dialah orang yang paling bertanggung jawab memberikan motivasi, menumbuhkan semangat dan menununjukkan strategi kerjasama yang mendukung pencapaian.


"Jadikan kerjasama sebagai strategi Anda, belajarlah untuk bekerja bijak seperti semut".






Tidak ada komentar:

Posting Komentar